Jumat, 01 April 2011

PERANAN SUHU DALAM PENENTUAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN

Oleh :
Fonny J.L Risamasu


1. PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Ikan merupakan salah satu hewan air yang pola hidupnya sangat rentan terhadap perubahan faktor lingkungan. Jumlah ikan dibandingkan dengan kelompok hewan bertulang belakang (vertebrata)  lainnya mempunyai presentase terbesar yakni 48,1 %. Keberadaan ikan di perairan sangat bervariasi baik dilihat dari bentuk, ukuran maupun habitat hidupnya.
Untuk menentukan keberadaan ikan  di perairan dapat diketahui  melalui parameter-parameter oseanografi seperti suhu, salinitas, oksigen terlarut, klorofil, zat hara (nutrien) seperti nitrat,pospat dan silikat, nitrogen, BOD dan sebagainya. Daerah penangkapan ikan dikatakan baik bila  tersedia ikan, parameter oseanografi mendukung, serta kondisi perairan mendukung untuk pengoperasian alat tangkap. 


Menurut Dwivedi,(2000) mengatakan bahwa beberapa parameter laut yang relevan  terhadap kehadiran ikan dan migrasinya meliputi ocean color, suhu, arus, mixed layer depth (MLD), salinitas oksigen, nutrien, vektor angin dan informasi tambahan. Ikan mempunyai kemampuan untuk mengetahui dan menyeleksi kisaran batas termal untuk melakukan aktivitas maksimum  dan memperlihatkan  kelimpahan dan distribusi ikan. Banyak fenomena laut seperti upwelling, fronts, edied yang mempengaruhi gradien temperatur permukaan merupakan daerah dimana kehadiran konsentrasi ikan dalam skala besar. Distribusi suhu secara horisontal dan vertikal mempengaruhi periode pemijahan, kemampuan perkembangan telur-telur dan larva serta ketersediaan makanan.
Setiap jenis ikan membutuhkan faktor lingkungan yang berbeda-beda.  Perbedaan faktor lingkungan tersebut juga membentuk pola hidup ikan yang berbeda-beda. Berdasarkan perbedaan faktor lingkungan, maka sumberdaya ikan yang ada di perairan di kelompokan atas ikan pelagis besar, ikan pelagis kecil dan ikan demersal. Salah satu faktor lingkungan yang sangat mempengaruhi penyebaran sumberdaya ikan di perairan yakni suhu.
Menurut Sverdrup, et al,(1942) dikutip oleh Inrawatit,(2000) suhu merupakan parameter yang penting dalam lingkungan laut dan berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan di laut. Pengaruh suhu secara langsung terhadap kehidupan di laut adalah dalam hal laju fotosintesa tumbuh-tumbuhan dan proses fisiologi hewan, khususnya aktivitas metabolisme dan siklus reproduksi. Secara tidak langsung suhu berpengaruh terhadap daya larut oksigen yang digunakan untuk respirasi biota laut. Daya larut oksigen berkurang, jika suhu naik, dan sebaliknya kandungan kabondioksida bertambah.
Pola distribusi suhu permukaan laut dapat digunakan untuk mengidentifikasi parameter-parameter laut seperti arus laut, umbalan air (upwelling) dan front. Proses umbalan air (upwelling) akan membawa massa air yang kaya akan zat hara yang akan meningkatkan produktivitas perairan sehingga mendukung proses kehidupan di laut (Pralebda dan Suyuti, 1983 dikutip oleh Indrawatit, 2000). Selanjutnya menurut Ilahule, (1970), Birowo, (1979) dikutip oleh Indrawatit, (2000) bahwa daerah front suhu dan umbalan air (upwelling) merupakan daerah potensial perikanan. Menurut Robinson,(1985)  dikutip oleh Indrawatit, (2000)  bahwa front di lautan menunjukkan suatu batas antara dua tipe massa air yang berbeda dalam hal suhu dan/ atau salinitas, bahkan kerapatan yang mempunyai gradien suhu yang kuat. Front yang terbentuk mempunyai produktiviatas yang tinggi karena merupakan perangkap bagi zat hara dari kedua massa air yang bertemu sehingga merupakan feeding ground  bagi ikan pelagis (Wyrtki, 1961 dikutip oleh Laevastu dan Hela, 1970).
Beberapa metode yang digunakan untuk penentuan daerah penangkapan ikan  meliputi (1) metode konvensional dimana pengukuran parameter oseanografi dilakukan secara langsung seperti suhu, arus, salinitas, dan sebagainya, dan (2) metode inkonvensional dengan menggunakan teknik penginderaan jauh dan akustik. Metode inkonvensional dalam pengukuran parameter oseanografi seperti suhu,arus lebih akurat, namun jarak jangkauan pengamatan terbatas.
Bertolak dari uraian diatas maka tulisan ini disampaikan untuk mengemukakan peranan suhu dalam penentuan daerah penangkapan ikan.


1.2    Tujuan dan  Kegunaan  Penulisan
Tulisan ini dibuat untuk menggambarkan tentang peranan suhu dalam penentuan daerah penagkapan ikan. Bahan kajian ini sangat bermanfaat untuk menambah wawasan mahasiswa tentang peranan suhu sebagai indikator dalam nenentukan kehadiran ikan pada suatu daerah penangkapan dan sebagai bahan informasi untuk pengembangan  perikanan tangkap dimasa akan datang.


2. METODE PENULISAN
Tulisan ini merupakan suatu kajian pustaka dimana bahannya diambil dari beberapa literatur dan  hasil penelitian  yang relevan.

3. HASIL
    Beberapa hasil penelitian yang membuktikan adanya peranan suhu dalam penentuan daerah penangkapan ikan  sebagai berikut :
    Menurut Haluan, Sondita dan Noviyanti, (1991)  mengemukakan bahwa nilai suhu perairan ZEE barat Sumatera tertinggi 29,59 0C dan terendah 7,6 0C dengan suhu permukaan rata-rata 28,89 0C. Hal ini membuktikan bahwa nilai suhu permukaan laut Indonesia umumnya 28 0C – 31 0C. Tingginya nilai suhu permukaan disebabkan oleh posisi geografis di wilayah ekuator, daerah yang menerima panas matahari terbanyak. Selanjutnya sebaran suhu horizontal tampaknya dipengaruhi oleh arus permukaan, khususnya untuk lapisan air antara 0 – 200 m. Dengan demikian sebaran suhu horizontal pada kedalam lebih dari 200 m terlihat merata (homogen) (Gambar.1). Menurut sebaran suhu, secara vertikal lapisan air laut dapat dibedakan menjadi 3 lapisan, yaitu lapisan hangat di bagian paling atas, lapisan termoklin di bawahnya dan lapisan dingin di bagian paling bawah.. Dari penelitian ini perairan ZEE barat Sumatera diketahui mempunyai batas atas dan batas bawah lapisan termoklin masing-masing pada kedalaman 30,12 dan 199,33 m.
    Menurut Haluan, Sondita dan Noviyanti, (1991)  bahwa kisaran suhu optimum untuk Yellowfin tuna  masing-masing 20 0C – 28 0C, dan cakalang dengan batas kedalaman renang 50 m masing-masing 28 0C – 29 0C. Dari data tersebut terlihat bahwa perairan ZEE barat Sumatera cocok untuk kehidupan yelowfin tuna dan cakalang.
    Hasil penelitian Yahya, (2000) mengemukakan bahwa suhu permukaan laut di perairan Sela    t Makassar berkisar antara 28,34 0C – 30,34 0C, dengan nilai rentangan  sekitar 2 0C pada musim peralihan Barat – Timur, 28,03 0C – 28,76 0C dengan nilai rentangan pada musim Timur dan 27,63 0C - 29,36 0C dengan nilai rentangan 1,73 0C pada musim peralihan Timur - Barat.  Selanjutnya sebaran vertikal suhu di perairan Selat Makassar pada musim peralihan Barat-Timur terdapat lapisan homogen dengan ketebalan sekitar 100 – 150 m, dengan kisaran suhu antara 30 0C – 29 0C, sedangkan pada musim Timur terdapat lapisan homogen yang lebih tipis sekitar 50 m dengan kisaran suhu 27 0C – 29 0C. Begitu pula pada awal musim peralihan Timur-Barat suhu berkisar antara 28 0C – 29 0C ( Gambar. 3)
    Menurut  Indrawatit, (2000)  mengemukakan bahwa ikan lemuru (Sardinella lemuru)  tertangkap di perairan Selat Bali berada pada kisaran suhu permukaan laut 25,010C – 29,00 0C. Ikan  lemuru cenderung berada pada suhu 26,01 0C – 27,00 0C pada bulan April, Mei, Juli dan cenderung berada pada suhu 28,01 0C – 29,00 0C pada bulan Oktober, sedangkan pada bulan Nopember berada pada suhu 26,01 0C – 27,00 0C.
    Menurut Basuki, (2002) mengemukakan bahwa hasil pengukuran suhu permukaan laut dengan Citra Satelit  menunjukkan bahwa pada perairan dekat pantai di pantai barat Sulawesi Selatan baik pada peralihan musim Barat – Timur dan musim Timur menunjukkan kondisi suhu permukaan laut lebih tinggi. Sebaran menegak suhu secara membujur  di perairan tersebut pada kedalaman 0 – 30 m menunjukkan kisaran 30,34 0C – 28,0 0C (musim peralihan Barat – Timur) dan 29,36 0C – 27,5 0C pada musim Timur. Hal ini disebabkan adanya perbedaan pengaruh sinar matahari pada waktu musim peralihan Barat – Timur penetrasi cahaya sangat kuat menembus sampai kedalaman 30 m dibandingkan pada musim Timur.







4. DISKUSI
    Menurut  Laevastu dan Hela, (1970) mengemukakan bahwa suhu perairan sangat berpengaruh terhadap kehidupan  di laut terutama terhadap laju fotosinetsa dan proses fisiologi hewan, khususnya derajat metabolisme dan siklus reproduksi dan secara tidak langsung berpengaruih terhadap daya larut oksigen yang digunakan untuk respirasi biota laut. Perubahan suhu perairan akan berpengaruh terhadap rangsangan saraf, perubahan proses metabolisme dan aktivitas tubuh ikan.  Selanjutnya dikatakan pula bahwa distribusi suhu perairan secara vertikal berpengaruh terhadap kedalaman renang ikan dari kelompok pelagis. Ikan cakalang dan tuna biasanya menghindari suhu perairan yang lebih tinggi dan berenang ke lapisan kedalam tertentu dimana ikan tersebut mudah beradaptasi. Distribusi vertikal ikan cakalang dan tuna di perairan tropis sangat di pengaruhi oleh lapisan termoklin. Madidihang (Yellowfin tuna) biasanya terdapat pada lapisan homogen diatas  termoklin, sedangkan tuna mata besar (Bigeye tuna) pada lapisan termoklin. Kisaran suhu optimum, penyebaran, penangkapan dan lapisan renang ikan cakalang dan tuna dapat dilihat pada Tabel.1.

Tabel. 1 Kisaran suhu optimum, penyebaran, penangkapan dan lapisan renang ikan cakalang dan tuna
Jenis    Kisaran suhu (0C)    Lapisan renang (m)
    Penyebaran    Optimum    Penangkapan    Penangkapan optimum   
Cakalang    17 – 20    20 - 24    19 - 23    16 - 22    0 – 40
Bluefin    12 – 15    14 – 21    15 – 22    -    50 – 300
Bigeye    11 – 28    17 – 23    18 – 22    -    50 – 400
Yellowfin    18 – 31    20 – 28    20 – 28    21 – 24    0 – 200
Albacore    14 – 23    14 - 22    15 - 21    15 - 19    20 – 300
Sumber : Laevastu dan Hela (1970)

    Perubahan suhu musiman pada suatu perairan, selain disebabkan oleh pengaruh pemanasan bumi dari penyinaran matahari, disebabkan juga  oleh arus permukaan, keadaan liputan awan, pertukaran massa air secara horizontal, vertikal maupun karena peristiwa upwelling ( Laevastu dan Hela, 1970). Selanjutnya dijelaskan lebih jauh bahwa kaitannya dengan kehadiran ikan terbang (Cypsilurus spp) di perairan Selat Makassar bagian selatan, umumnya muncul dipermukaan laut dalam jumlah yang besar sekitar bulan April – September (akhir peralihan musim Barat-Timur, musim Timur, awal peralihan musim Timur – Barat, kemudian menghilang.
    Menurut Tomascik, et al, (1997) dikutip Masrikat, (2002)  mengemukakan bahwa suhu permukaan laut perairan Indonesia umumnya berkisar antara 25 0C – 30 0C dan mengalami penurunan satu atau dua derajat dengan bertambahnya kedalaman hingga 80 db atau kurang lebih 8 m. Selanjutnya menurut Laevastu dan Hayes, 1970 dikutip oleh Basuki, 2002 bahwa suhu permukaan laut (spl) merupakan salah satu parameter bagi sumberdaya hayati laut (ikan). Setiap jenis ikan mempunyai suhu optimum dan mempunyai keterbatasan toleransi terhadap perubahan suhu.
    Menurut Laevastu dan Hayes, (1981) bahwa ikan cod tidak makan jika suhu lebih kecil dari 1 0C, suhu optimum untuk makan bervariasi antara 2,2  0C  dan 15, 5 0C. Selanjutnya ikan sardin iwashi (Sardinops melanosticta) di perairan laut Jepang memijah pada suhu sekitar 13 0C – 17 0C dengan suhu optimum antara 14 0C  – 15,5 0C, sedangkan ikan sardin Pasifik (S. caerulea) memijah di luar California pada kisaran suhu 15 0C  – 16 0C (Laevastu dan Hela, 1970). Ikan lemuru (Sardinella lemuru)  tertangkap di perairan Selat Bali berada pada kisaran suhu permukaan laut 25,010C – 29,00 0C.


5. KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
    Dari uraian tersebut maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.    Suhu merupakan parameter fisik air laut yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan  di laut terutama terhadap laju fotosinetsa dan proses fisiologi hewan, khususnya derajat metabolisme dan siklus reproduksi dan secara tidak langsung berpengaruh terhadap daya larut oksigen yang digunakan untuk respirasi biota laut
2.    Distribusi suhu secara horisontal dan vertikal mempengaruhi periode pemijahan, kemampuan perkembangan telur-telur dan larva serta ketersediaan makanan dan lapisan renang ikan (swimming layer).
3.    Perubahan suhu musiman pada suatu perairan, selain disebabkan oleh pengaruh pemanasan bumi dari penyinaran matahari, disebabkan pula oleh arus permukaan, keadaan liputan awan, pertukaran massa air secara horizontal, vertikal maupun karena peristiwa upwelling.
4.    Setiap jenis ikan bertoleransi dengan suhu air laut berbeda-beda sesuai dengan kebutuhannya. Kisaran suhu optimum untuk Yellowfin tuna  masing-masing 20 0C – 28 0C, dan cakalang dengan batas kedalaman renang 50 m masing-masing 28 0C – 29 0C . Ikan cod tidak makan jika suhu lebih kecil dari 1 0C, suhu optimum untuk makan bervariasi antara 2,2  0C  dan 15, 5 0C. Ikan sardin iwashi (Sardinops melanosticta) di perairan laut Jepang memijah pada suhu sekitar 13 0C – 17 0C dengan suhu optimum antara 14 0C  – 15,5 0C, sedangkan ikan sardin Pasifik (S. caerulea) memjah di luar California pada kisaran suhu 15 0C  – 16 0C dan ikan lemuru (Sardinella lemuru) dapat hidup pada suhu sekitar 26 0C - 29 0C.

5.2 Saran
    Dari uraian diatas dapat disarankan bahwa perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam lagi terhadap hubungan suhu, arus dan nutrien  dalam menentukan daerah penangkapan ikan.


REFERENSE

Basuki, W, 2002. Analisis Hubungan Faktor Oseanografi dengan Produktivitas Kwartal dan Pola Pencarian Daerah Penangkapan Ikan Pelagis Kecil Di Tujuh Kabupaten – Sulawesi Selatan. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Hal : 12 – 29.
Dwivedi, R.M, 2000. Ocean Color as a Tool For Potential Fishing Zone Identification and Forecast. Remote Sensing Aplications Area, Space Applications Centre, Ahmedabad 380015, India. Pp : 17 – 22. 
Haluan, J; M.F.A Sondita dan R. Noviyanti, 1991. Studi tentang Penyebaran Suhu dan Salinitas Di Perairan ZEE Barat Sumatera dan Kemungkinan Aplikasinya untuk Mendeteksi Daerah Penangkapan Ikan Yellowfin Tuna (Thunnus albacares) dan Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis). MARITEK Vol. 1, Nomor. 1, Maret 1991. Hal : 54 – 67.
Indrawatit, A, 2000. Studi tentang Hubungan Suhu Permukaan Laut Hasil Pengukuran Satelit Terhadap Hasil Tangkapan Ikan Lemuru ( Sardinella lemuru Bleeker 1853) di Selat Bali. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Hal : 27 – 40.
Laevastu, T and I. Hela, 1970. Fisheries Oceanogarphy. Fishing News Books Ltd, London. 236 p
Laevastu, T and M.L Hayes, 1981. Fisheries Oceanography and Ecology. Fishing News Books Ltd. Farnham. Surrey England. 199 p.
Masrikat, J.A.N, 2002. Karakteristik Fisik dan Distribusi Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan dan Selat Malaka pada Musim Timur. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Hal : 9.
Yahya, M, 2000. Hubungan Karakteristik Fisika-Kimia Laut dengan Produksi Hasil Tangkapan Ikan Terbang (Cypsilurus spp) di Selat Makassar. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Hal : 51 – 57.






                

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar